MERINDUKAN YANG NANTI: HAKIKAT KEINGINAN

Dr. Michael Newton dalam Journey of the souls menyatakan bahwa banyak jiwa mengalami depresi berat, merasa tidak bahagia. Dalam derajat yang berbeda, manusia sedang berkejaran dengan keinginan. Tandanya ialah menyukai sesuatu yang nanti akan terjadi, membenci sesuatu yang sudah digenggam. Setelah yang nanti menjadi sesuatu yang kini, lagi-lagi kita merindukan yang nanti.

Tak ubahnya seperti cerita Nasrudin Hoja. Suatu hari Nasrudin asyik memancing, tiba-tiba polisi datang. Kemudian Nasrudin segera berlari, diikuti oleh polisi tersebut, namun setelah beberapa waktu dikarenakan kelelahan, Nasrudin berhenti berlari. Polisi yang mengejarnya pun bertanya seraya membentak, ”Mana tiket masuknya?”. Dengan polos Nasrudin menunjukkan tiket. Menyadari kekeliruan tersebut, polisi pun bertanya, ”Kalau punya tiket, mengapa tadi lari?”. Nasrudin berujar, ”Saya lari karena penyakit maag saya kambuh, jadi saya ingin cepat-cepat bertemu dokter”.

Beginilah kehidupan banyak orang. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berlari. Setelah habis energi, barulah sadar kalau kita berlari untuk sebuah kesalahpahaman. Dan yang paling banyak bertanggung jawab atas hidup yang terus berlari adalah keserakahan dan keinginan.

Namun apakah keinginan itu? Sejatinya dalam keinginan termuat harapan. Harapan bagian dari keinginan. Dalam konteks besarnya, keinginan, apapun bentuknya; keserakahan maupun harapan, merupakan motif di belakang semua tindakan yang kita lakukan.

Terpenuhinya keinginan disebut juga tanda dicapainya kebahagiaan. Dengan kata lain kebahagiaan terjadi saat apa yang kita inginkan, harapkan, maupun yang diimpikan tercapai.

Sadar akan bahaya dari keserakan dan keinginan, banyak guru yang belajar untuk mengelolanya. Mereka sadar, semakin banyak yang kita dapatkan, semakin banyak pula yang kita inginkan. Sekali pikiran dipuaskan, ia akan segera beranjak menuju keinginan berikutnya. Terdapat perluasan yang tanpa akhir.

Seorang pejalan kaki sempat berbisik ke dalam diri, orang yang amat bahagia adalah orang yang sadar dalam batinnya bahwa ia adalah orang yang hina. Untuk itu tidak ada pilihan yang lebih baik untuk menemukan kebahagiaan kecuali rendah hati. Akibat dari meletakkan diri di tempat terendah, tidak seorang pun bisa menghinanya. Karena ia tidak bisa dihina, maka ia bahagia di mana saja ia berada.

Lain cerita seorang pemuda yang sedang bertandang ke rumah seorang cendekia. Pemuda tersebut bertanya akan arti kebahagiaan. Oleh sang cendekia pemuda tersebut dipersilahkan melihat-lihat keelokan dan segala isi rumah sang cendekia, dengan syarat dia harus menjaga sesendok minyak yang diamanahkan oleh sang cendekia. Mungkin ceritanya sudah dapat ditebak, karena begitu terpesonanya dengan keindahan dan segala sesuatu dari rumah sang cendekia, pemuda tersebut melupakan sesendok minyak yang harus ia jaga. Di penghujung hari, sang cendekia bertanya, ”Sudahkah kau temukan arti kebahagiaan?”. Pemuda tersebut berujar, ”Saat aku melihat segala keindahan dan terpana oleh segala yang ada di rumah ini aku merasa senang, namun aku masih belum menemukan jawaban atas kebahagiaan”. Cendekia tersebut kemudian kembali bertanya, ”Bagaimanakah minyak dalam sendok yang kuserahkan padamu?”. Sang pemuda tertunduk menyadari kealpaan yang telah dia lakukan. Dia telah melupakan minyak dalam sendok genggamannya, minyak pun sudah tak bersisa. Sang cendekia kemudian berkata, ”kebahagiaan adalah kemampuan untuk menikmati dan menghargai segala sesuatu yang kita temui tanpa melupakan hal yang paling dekat dengan kita”.

Kebahagiaan adalah penyelarasan antara yang ”AKU” inginkan dan apa yang dunia ini dapat suguhkan untuk memenuhi keinginan dan harapan yang terkandung. Ketidak tenangan, sebaliknya, muncul akibat dari ketidak sesuaian antara harapan dan realitas. Maka untuk bisa mewujudkan kebahagiaan, kita berusaha untuk menyelaraskan antara keinginan dan kenyataan. Begitulah sistem yang berlaku, semakin banyak keinginan yang terpenuhi, maka semakin bahagialah kita. Dan tentu saja manusia selalu ingin bahagia.

Sebuah perenungan saja, manakah yang lebih memudahkan kita untuk bahagia: Jika kita memiliki lebih banyak pengharapan dan keinginan, atau jika kita memiliki lebih sedikit pengharapan dan keinginan? Jawabannya dapat segera dipahami. Jangan terikat oleh keinginan. Semakin kita terbelenggu oleh keinginan, semakin besar peluang kita untuk menjumpai ketidak selarasan, dan karenanya merasakan ketidak tenangan, ketidak bahagiaan.

Peluang kita untuk bahagia akan lebih besar saat kita memiliki sedikit keinginan. Kesempatan kita untuk merasakan kebahagiaan akan jauh lebih besar saat keinginan yang sedikit itu terpenuhi. Dalam rasa berkecukupan itulah letak kebahagiaan.

Apapun alasannya keinginan semestinya dikembalikan ke tempatnya yang semula, sebagai pembantu, bukan penguasa hidup. Tanyakanlah pada diri masing-masing, dimanakah kita sebenarnya jika setengah dari diri terkubur oleh masa lalu dan keputus asaan? Dimanakah diri kita jika setengah bagian yang lainnya mencemaskan keinginan masa depan, merindukan yang nanti? Apakah yang tersisa dari diri ini? Bagian mana lagi dari kita yang bisa dimanfaatkan untuk sekarang? Energi kita telah habis untuk sibuk berlari….

Hidup hanyalah sebuah perjalanan. Manusia ada di dunia ini, namun ia bukanlah pemilik dunia. Ia singgah ke dunia dalam rangka perjalanan menemukan pucuk takdirnya. Bagaimana cara menikmati hidup adalah pilihan masing-masing manusia.

7 Juli 2007 – “Dalam ruang kontemplasi”

Devi R. Ayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: