HARTA KARUN

Mengenai usaha manusia untuk mencapai tujuan hidup tertinggi, 
Caitanya Mahaprabhu menceriterakan kisah dari ulasan Madhva atas 
Srimad-Bhagavatam, Skanda Lima (Madhva-bhasya, 5.5.10-13). 

Ceritera ini mengenai petunjuk-petunjuk seorang ahli perbintangan bernama Sarvajna kepada orang miskin yang telah datang kepada beliau untuk minta ramalan nasibnya. Ketika Sarvajna melihat perbintangan orang tadi, beliau heran bahwa orang itu begitu miskin, dan beliau memberitahunya dan bertanya : 

"Mengapa engkau begitu sedih? 
Dari ramalan perbintanganmu, saya dapat melihat bahwa engkau memiliki harta karun yang diwariskan kepadamu oleh almarhum ayahmu. Akan tetapi, ramalan menunjukkan bahwa ayahmu tidak sempat menyampaikan keterangan tentang harta karun ini kepadamu karena beliau meninggal dunia di negara asing. Tetapi sekarang engkau dapat mencari harta karun ini dan berbahagia." 

Ceritera ini dikutip karena makhluk hidup sedang menderita akibat kebodohannya mengenai harta karun Ayahnya Yang Paling Utama, Krsna. Harta karun itu adalah cinta-bhakti kepada Tuhan Yang Maha-Esa. Setiap sastra Veda menasihati roh terikat agar mencari harta karun tersebut. Dalam Bhagavad-gita dinyatakan bahwa roh terikat putra kepribadian yang Mahakaya — Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa—namun ia belum menginsafi hal itu. Karena itu, sastra Veda diberikan kepada makhluk hidup untuk membantunya mencari ayahnya serta harta karun milik ayahnya.

Ahli perbintangan bernama Sarvajna selanjutnya menasihati orang miskin tadi sebagai berikut: "Jangan menggali di sebelah selatan rumahmu untuk mencari harta karun itu, sebab kalau engkau menggali di sana, engkau akan diserang oleh sengat berbisa dan akan kebingungan. Usaha menggali harus dilakukan di sebelah timur, tempat cahaya nyata. Arah timur di sini diumpamakan sebagai pengabdian suci atau kesadaran Krsna. Di sebelah selatan, ada ritual-ritual Veda, dan di sebelah barat ada angan-angan pikiran, sedangkan di sebelah utara ada yoga meditasi."

Nasihat Sarvajna harus diperhatikan dengan seksama oleh semua orang. Kalau seseorang mencari tujuan hidup tertinggi melalui proses ritual, maka ia pasti akan kebingungan. Proses tersebut menyangkut pelaksanaan ritual-ritual di bawah bimbingan seorang pendeta yang menerima uang sebagai imbalan jasanya. Mungkin orang berpikir dirinya akan bahagia dengan melakukan ritual-ritual tersebut. Kalaupun ia mendapat hasil dari ritual-ritual itu, hasil itu hanya sementara saja. Penderitaan material orang yang bersangkutan akan berjalan terus. Jadi, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh bahagia dengan mengikuti proses ritual, melainkan penderitaan materialnya akan semakin meningkat. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai penggalian di sebelah utara, atau mencari harta karun melalui proses yoga meditasi. Melalui proses ini, orang 
bercita-cita bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi menunggal 
dengan Yang Mahakuasa seperti itu ibarat ditelan oleh ular raksasa. Kadang-kadang ular raksana menelan ular kecil. 

Menunggal dalam eksistensi rohani Yang Mahakuasa diumpamakan sebagai ular kecil ditelan ular besar. Pada waktu si ular kecil sedang mencari kesempurnaan, ia ditelan. Tentunya tidak ada jalan keluar dari keadaan ini. Di sebelah barat, juga ada rintangan dalam bentuk yaksa atau roh jahat yang melindungi harta karun tersebut. Yang dimaksud adalah bahwa harta karun tidak pernah dapat ditemukan oleh orang yang minta bantuan yaksa untuk mencarinya. Orang yang minta bantuan yaksa malah akan dibunuh oleh roh jahat itu. Pikiran yang suka berangan-angan diumpamakan sebagai yaksa. Dalam hal ini, proses keinsafan diri melalui angan-angan, atau proses jnana, juga seperti bunuh diri.

Kesimpulannya satu-satunya kemungkinan adalah mencari harta karun di sebelah timur melalui proses pengabdian dalam kesadaran Krsna yang sempurna. Proses pengabdian suci itu adalah harta karun yang kekal. Begitu seseorang mendapat harta karun pengabdian suci, ia menjadi kaya selamanya. Orang yang miskin dalam pengabdian suci selalu kekurangan harta material. Kadang-kadang ia menderita karena digigit makhluk berbisa, kadang-kadang ia kebingungan, kadang-kadang ia mengikuti filsafat monisme sehingga kehilangan identitasnya, dan kadang-kadang ia ditelan oleh ular raksasa. Hanya dengan meninggalkan segala usaha lain tersebut dan menjadi mantap dalam kesadaran Krsna, pengabdian suci kepada Tuhan, kita sungguh-sungguh dapat mencapai kesempurnaan hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: